Tempat nongkrongnya anak SPENTIKA

Menu UTAMA

Online Status

M. Yusuf

Visitor

AGENDA KEGIATAN


Kegiatan Pondok Romadlon akan dilaksanakan mulai tanggal 30 Agustus 2010 sampai dengan tanggal 4 September 2010

Jajak Pendapat

Mata Pelajaran Matematika terasa sulit karena ...
 

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini10
mod_vvisit_counterKemarin14
mod_vvisit_counterMinggu ini10
mod_vvisit_counterBulan ini58

Who's Online

We have 12 guests online

Tautan WEB

 

Jardiknas
Edukasi
Download Buku Elektronik

Forum Siswa
Untuk Adik-adik SD Yang ingin jadi Cerdas
Nomor Induk Siswa (SMPN 3 Krian) Nasional
Forum Guru
Suara Surabaya Streaming
Siaran Radio Online
Metro TV Online
Majalah Pendidikan SMP Negeri 3 Krian
Feb 10 2010
Teladan Anak Sekolah Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 10 February 2010
TELADAN Anak Sekolah

Saya bersama Istri dan Putri kami 

Assalamualaikum,

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada Saya untuk bercerita tentang Biografi Saya di halaman WEB SMP Negeri 3 Krian ini, sebenarnya tidak banyak pengalaman yg bisa saya bagi, berikut ini sedikit pengalaman kisah hidup saya.

Setelah lulus SD di kampung saya ingin melanjutkan sekolah dan pilihan pertama saya jatuh ke SMP 3 Krian dengan pertimbangan dekat dari rumah dan SPP yang masih murah saat itu. Selama sekolah di sana banyak sekali kenangan-kenangan indah layaknya anak-anak yg mulai menginjak masa-masa awal remaja, cinta monyet :p, dan banyak teman baru yang sampai saat ini masih ada yg keep contact (sayang foto-foto waktu SMP sudah tidak ada lagi).

Meskipun dulu prestasi akademik saya tidak menonjol alias pas-pasan tapi selama 3 tahun belajar di SMP 3 Krian saya mendapat begitu banyak pelajaran berharga yg tidak hanya berguna secara akademis tp lebih penting lagi ikut membentuk karakter untuk menjalani kehidupan karena di usia-usia inilah kita sebagai manusia mulai terbentuk karakter yang akan terbawa sampai dewasa. Bagaimana dulu kami mulai mengenal alam dari Pak Sugeng yg tidak hanya mengajarkan teori atau text book tapi jg banyak cerita tentang kehidupan belajar matematika dari Bu Sri Vaharni yg berguna untuk melatih logika kita…mengenal bahasa dan falsafah Jawa dari Pak Sayit, mengenal sdkt bahasa Inggris dari Bu Endah (sepertinya sudah tidak ngajar lagi di SMP 3 ya) dan Bu Endang, mengejar ajaran agama dari Pak Zaidundan dengan tidak mengurangi rasa hormat masih banyak lagi yang tidak mungkin bisa saya sebutkan satu persatu. Dari beliau-beliau lah saya punya bekal yang cukup untuk mencoba meraih mimpi-mimpi saya.

Hubungan dengan teman-teman pun sangat baik, tdk pernah ada masalah biarpun pada waktu itu lagi rame-rame musim tawuran anak-anak SMP pun waktu itu sdh mengenal drugs dan minuman beralkohol tapi saya bersyukur masih bisa bertahan tanpa menyentuh hal-hal tsb dan tetap bersahabat dengan teman-teman (jadi kangen sama mereka, kalau ada reuni Akbar tlg dikabarin ya pak  ). Tak terasa 3 tahun belajar di SMP 3 terasa begitu cepat dan akhirnya saya melanjutkan sekolah di SMAN Krian (sekali lagi karena alasan dekat dengan rumah, SPP yg masih terjangkau, dan NEM yang pas-pasan ). Tiga tahun kemudian selepas lulus SMA saya pergi ke Jogja selama masa liburan sambil nunggu UMPTN (istilah waktu itu) bukan untuk wisata tapi untuk ikut kerja sambil belajar sdkt2 untuk UMPTN dan kebetulan saya keterima di Jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung. Akhirnya pergilah saya ke Bandung sebagai bonek karena tidak punya saudara dan tidak kenal satu orangpun di Bandung dan juga dengan uang saku pas-pasan tapi nekad sekolah di sana hehe. Sampai di Bandung saya cukup kaget karena ternyata kampus Psikologi UNPAD bukan di kota Bandung tapi di Jatinangor sekitar 1-2 jam dari Bandung . Hal ini terus terang membuat saya agak shock karena Jatinangor waktu itu masih sepi sehingga saya kesulitan untuk mencari kerja/penghasilan untuk tambahan untuk membantu kiriman dari orang tua. Apalagi biaya hidup di Bandung cukup tinggi dibandingkan dengan Surabaya , Malang ataupun Jogja

Setelah merenung cukup keras akhirnya saya putuskan untuk ikut UMPTN lagi ditahun berikutnya…dan kebetulan saya keterima lagi di Teknik Sipil ITB Bandung. Sambil kuliah saya juga mencari penghasilan untuk tambahan biaya hidup dengan ngajar privat adik-adik SMA di Bandung, pagi-sore kuliah, sore sampai malam datang ke rumah-rumah untuk ngajar privat. Sehari bisa lebih 3 rumah yg jaraknya cukup berjauhan yg harus saya datangi untuk ngajar Ya cukup lelah jg tiap hari seperti itu tidak ada waktu istrihat apalagi belajar hehe maksud hati pengen saya jalani kuliah dua-duanya di UNPAD dan ITB tp dengan kondisi saya hrs ngajar yg makan waktu cukup banyak akhirnya saya putuskan untuk berhenti kuliah di Psikologi UNPAD dan fokus di Teknik Sipil ITB.

Di sini lah saya ketemu dengan putra-putra terbaik bangsa ini, saya banyak belajar dari teman-teman yg jauh lebih superior dari saya dari semua sisi (ekonomi, intelijensi, maupun mental). Awalnya sedikit minder dengan mereka karena dari sisi mana dari saya yg bisa dibanggakan? Ekonomi pasti kalah, Inteligensi? hampir smua mereka adalah produk-produk unggulan dari sekolah-sekolah terbaik di negeri ini…tapi dengan cepat saya coba alihkan semua pikiran-pikiran yang kurang baik itu untuk menjadi energi yang mampu mendorong saya untuk keep survive dan terus mengejar impian. Selain masalah ekonomi yang sangat mengganggu aktivitas kuliah saya, di rumah di kampong banyak suara-suara yang cukup mengganggu keluarga, banyak yg bilang ga usah sok pengen sekolah tinggi-tinggi tar ujung-ujungnya juga nganggur (waktu itu sedih juga dengernya apalagi ibu sampai nangis karena banyak omongan2 spt itu) tp smua itu justru membuat saya makin kuat secara mental, tdk ada istilah menyerah apalagi putus asa tidak ada istilah tidak bisa tidak ada alasan apapun yg bisa dibenarkan untuk cengeng tidak ada masalah apapun yang tidak bisa diselesaikan. Masa-masa kuliah inilah saya merasakan tekanan yg lmyn berat…pelajaran di bangku kuliah harus bisa saya ikuti tanpa kenal ampun tp duitpun hrs bisa sy hasilkan untuk biaya hidup dan tambahan biaya kuliah (waktu itu biarpun ada beasiswa tetap tidak cukup) bahkan seringkali dlm sehari sy hanya makan mie instan satu bungkus untuk siang dan malam kadang-kadang kl punya sdkt uang sy beli permen yg manis untuk menahan lapar hehe Waktu itu saya bener-bener hampir tidak ada waktu untuk bersenang-senang layaknya teman-teman sebaya tapi saya tetap berusaha tegar dan mengalihkan keinginan-keinginan semu itu menjadi energi yang lebih besar lagi Selama masa di kampus ini juga saya punya banyak sekali teman dari berbagai latar belakang yang sangat membantu untuk lebih membuka cakrawala berpikir saya.

Setelah perjalanan yg cukup panjang akhirnya saya lulus dari ITB (biarpun ga cum laude) waktu itu Ibu dan adik datang ke wisuda, dan bisa saya liat betapa bangga orang tua saya melihat anaknya lulus dari salah satu Perguruan Tinggi terbaik di negeri ini dan berdiri sejajar dengan mereka-mereka yang terbaik saya sangat terharu, perjuangan orang tua saya sangat luar biasa dan tidak mungkin saya bisa membalasnya walau setitik sampai kapanpun bapak saya seorang buruh tukang kayu dan ibu adalah ibu rumah tangga biasa, sawah, kebun, kendaraan, harta kami ga punya, hanya sepetak rumah tempat tinggal kami itu saja yg kami miliki tapi siapa yang nyangka dari rumah sederhana itu, seorang tukang kayu dan istrinya sebagai ibu rumah tangga biasa bisa membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi terbaik di negeri ini…adik saya lulusan arsitek ITS dan satunya di UPN Surabaya (kami 3 bersaudara).

Tidak lama setelah lulus kebetulan ada sebuah perusahaan Multinasional yg sedang mengadakan perekrutan di kampus dan Alhamdulillah kebetulan lagi sy diterima kerja di PT Siemens Indonesia .

Dari sinilah mulai sedikit demi sedikit saya merasakan buah kerja keras dan pantang menyerah selama ini, sempet kaget juga waktu itu dari mahasiswa kere tiba-tiba diterima kerja di perusahaan yg cukup bonafide di kelasnya dengan penghasilan yang lebih dari cukup untuk seorang bujangan sehingga sempet sdkt terlena dengan kehidupan dunia tapi akhirnya Alhamdulillah blm terlalu jauh saya sadar perjalanan masih jauh dan masih banyak yang harus saya gapai. Selama kerja di sini saya mendapat pengalaman yang sangat berharga, dari kota-kota besar, kota-kota kecamatan seluruh pulau Jawa, Sumatera, pelosok-pelosok Kalimantan sampai pulau Timor, bahkan bbrp pulau-pulau kecil di Indonesia yang kalau saya sebut mungkin ga ada yg pernah denger  pernah saya singgahi. Saya belajar banyak tentang karakter masyarakat Indonesia dari ujung barat sampai ujung timur masuk hutan-hutan Kalimantan yg masih rawan…melintasi daerah-daerah perbatasan Kalimantan-Malaysia, NTT-Timor Leste...berhadapan dengan preman kota sampai preman kampung bertahan hidup di daerah-daerah minus yang makananpun sangat jarang kita jumpai…dan banyak lagi pengalaman-pengalaman yang cukup langka yang tidak banyak orang pernah mengalami. Sangat menyenangkan hidup bebas bagai burung tanpa terikat rutinitas.

Beberapa tahun kemudian sampai juga saya pada titik jenuh dan mungkin juga naluri kita sebagai manusia yang ingin selalu hidup mapan akhirnya saya putuskan untuk pindah kerja yang bisa memberi saya waktu yang cukup untuk keluarga dan tidak sering meniggalkan rumah. Sejak lebih dari 2 tahun lalu saya bekerja di salah satu operator telekomunikasi yang sebagian besar sahamnya dimiliki Saudi Telecom Company (Telkomnya Arab Saudi). Waktu itu produk AXIS belum launch jadi saya masuk tim yang membantu persiapan untuk launching. Disini saya punya banyak waktu untuk keluarga (istri dan anak laki saya umur 3 tahun foto attached) dan saya bisa menikmati semua hasil kerja keras selama belajar dari SD-PT.

Untuk adik-adik sekarang saya pikir pasti lebih mudah meraih impiannya apalagi dengan dunia yg semakin transparan kesempatan di mana-mana, akses informasi mudah sekali dan murah, kita bisa browsing kapanpun dan di manapun manfaatkan internet jangan hanya buat facebook, twitter atau main game hehe

Message yang ingin saya sampaikan dengan berbagi pengalaman ini adalah kita harus selalu punya impian setinggi langit dan jangan pernah menyerah untuk menggapainya kebetulan contoh pengalaman saya disini dominan akademik tapi kita tidak harus pintar, tidak harus kaya, tidak harus sekolah tinggi kalau mau sukses tapi work hard work smart be well informed di jaman kebebasan informasi ini.

Begitulah sedikit pengalaman Saya yg bisa saya bagi semoga bermanfaat buat adik-adik di SMP 3 Krian.

Terima kasih dan assalamualaikum.

 

Regards,

Hani Syaifudin

 

 

Last Updated ( Wednesday, 10 March 2010 )
 
< Prev   Next >
Anda tersambung ke Website kami dg IP : 38.107.191.95